Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan khutbah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Ku wariskan dua perkara pada kalian, Al-Qur’an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku.” Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu.
Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar adanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.
Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” ”Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak
dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.. “Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Ku haramkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai dingin , kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku”, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.”Ummatii, ummatii, ummatiii?” – ”Umatku, umatku, umatku”
Dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi.
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Kembalilah pada Syari’ah ya…ayyuhal Muslimiiin…………

https://siteexplorer.search.yahoo.com/verification?site_id=6487352&.bcrumb=472a6ff2be8d043271c56f8c9b3d700a,1277010263&txtFileName=y_key_c10ab814468de698.html&txtFileContent=a03a3ce3eb7a7f11&download=Download

Berikut beberapa cara untuk menstimulasi agar perkembangan bicara batita semakin lancar dan ia gemar bicara:

  • Ceritakan kesibukan Anda. Omongkan dengan lantang apa saja yang sedang Anda kerjakan dan lemparkan pertanyaan-pertanyaan untuk batita. “Teruslah bicara, walaupun Anda nampak konyol karena batita tak bisa menjawab,” usul Pam Quinn, terapis wicara di RS Rehabilitasi Schwab, Chicago. Walaupun mereka sepertinya belum mengerti, tapi kata-kata tersebut akan diingatnya dan suatu saat akan diekspresikannya.
  • Jadi ‘role model’. Bila batita Anda mengatakan “cucu” untuk susu, gunakan pengucapan yang benar ketika Anda merespon, “Ini susumu.” Kembangkan penguasaan bahasanya dengan menambahkan kata-kata baru, misalnya “Susumu warnanya putih, enak sekali.” Strategi ini tak hanya akan menambah jumlah kosa katanya tapi juga mengajarkan cara kombinasi kata. Namun hindari mengoreksi ucapannya. “Menunjukkan kesalahan anak bisa membuatnya tak nyaman. Bahkan anak seusia itupun dapat mulai merasa bahwa apapun yang dilakukannya selalu salah di mata ibu,” kata Pam lagi.
  • Berlagak “bodoh”. Beri batita kesempatan untuk meminta dan mengungkapkan kebutuhannya sebelum Anda memberikan padanya. Contohnya, saat bermain, ia menggulirkan bola dan Anda tahu ia ingin Anda mengembalikan bola itu padaya, pura-pura saja Anda tidak mengerti, berikan ekspresi wajah bingung dan bertanya, “Ibu harus apa?” Jeda seperti ini akan menyemangatinya untuk berkomunikasi.
  • Tetap nyata. Hindari untuk mengucapkan kata berlebihan atau berbicara dalam bahasa slang atau bahasa pergaulan yang tak dimengerti balita usia 1-2 tahun. Orangtua wajib berbicara dalam kalimat-kalimat reguler dan dalam bahasa yang benar, yang akan membantu anak mengerti cara memadukan kata menjadi kalimat yang bermakna.
  • Hati-hati dalam memilih kata di depan anak. Karena anak sangat mudah menyerap dan mengingat, jangan mengucapkan kata-kata kotor/umpatan.
  • Supaya lebih mudah dimengerti, ajak anak ngobrol dalam suasana yang menyenangkan. Misal, ketika bicara tentang hujan, orangtua memperbolehkan anak menadahkan tangan untuk menampung air hujan sambil bercerita saat hujan seluruh tanaman akan basah. Bisa juga sambil menyanyikan lagu-lagu tentang hujan.
  • Ketika bicara usahakan anak memang sedang menaruh perhatian. Apakah matanya sedang melihat ke arah kita/benda yang kita tunjukkan atau ke arah lain. Bila anak terlihat memerhatikan sesuatu, ajak ia bicara mengenai hal/benda yang sedang diperhatikannya itu.
  • Berikan makanan padat sesuai usia anak untuk merangsang otot bicaranya.
  • Jangan mudah menyerah untuk terus mengajaknya bicara.

Ada keterlambatan bicara yang masih bisa diupayakan untuk diatasi sendiri oleh orangtua, tapi ada juga yang harus melibatkan ahli.

* Keterlambatan yang bisa diatasi sendiri.

1. Menyebut nama-nama anggota tubuh. Misal, anak berdiri di depan kaca, tunjuk anggota tubuh yang dimaksud sambil menyebutkan namanya, “Ini tangan Mama, ini tangan Adek.”

2. Ketika anak bicara tidak jelas tapi kita mengerti maksudnya, coba betulkan kata-katanya lalu minta ia bicara lebih jelas lagi, baru kemudian penuhi permintaannya. Contoh, si kecil minta susu tapi hanya menunjuk-nunjuk, orangtua bisa mengatakan, “Susu” atau “Mau susu, ayo bilang dulu.”

3. Mengucapkan nama benda yang digunakan sehari-hari dengan cara terus mengulang-ulang dan memintanya mengikuti.

4. Ketika seharusnya anak sudah bisa mengucapkan 2-3 kata dalam satu kalimat tapi ia hanya mengucapkan satu kata, minta ia mengatakan dengan benar. Umpama, anak hanya mengatakan “ayam” untuk makan ayam goreng, berikan contoh bagaimana seharusnya, “Adek mau makan ayam gorengnya? Ayo bilang, makan ayam,” dengan suara lebih keras dan minta ia mengulanginya.

5. Jika ada konsonan-konsonan yang masih sulit diucapkannya di usia 12-18 bulan, beri kesempatan untuk terus meng- ulanginya.

6. Sering-seringlah mengajak anak bicara. Sesekali keraskan suara atau pertegas intonasinya bila anak terlihat tak mengerti.

* Keterlambatan yang harus melibatkan ahli.

1. Sampai usia 12 bulan sama sekali belum bisa babbling.

2. Sampai usia 18 bulan belum ada kata pertama yang cukup jelas, padahal sudah dirangsang dengan berbagai cara.

3. Terlihat kesulitan mengucapkan beberapa konsonan.

4. Sepertinya tidak memahami kata-kata yang kita ucapkan.

5. Terlihat berusaha sangat keras untuk mengatakan sesuatu, misalnya sampai ngeces atau raut muka berubah.


Penyebab dari keterlambatan bicara ini disebabkan oleh beragam faktor, seperti :

1. Hambatan pendengaran
Pada beberapa kasus, hambatan pada pendengaran berkaitan dengan keterlambatanbicara. Jika si anak mengalami kesulitan pendengaran, maka dia akan mengalami hambatan pula dalam memahami, meniru dan menggunakan bahasa. Salah satu penyebab gangguan pendengaran anak adalah karena adanya infeksi telinga.

2. Hambatan perkembangan pada otak yang menguasai kemampuan oral-motor

Ada kasus keterlambatan bicara yang disebabkan adanya masalah pada area oral-motor di otak sehingga kondisi ini menyebabkan terjadinya ketidakefisienan hubungan di daerah otakyang bertanggung jawab menghasilkan bicara. Akibatnya, si anak mengalami kesulitan menggunakan bibir, lidah bahkan rahangnya untuk menghasilkan bunyi kata tertentu.

3. Masalah keturunan
Masalah keturunan sejauh ini belum banyak diteliti korelasinya dengan etiologi dari hambatan pendengaran. Namun, sejumlah fakta menunjukkan pula bahwa pada beberapa kasus di mana seorang anak anak mengalami keterlambatan bicara, ditemukan adanya kasus serupa pada generasi sebelumnya atau pada keluarganya. Dengan demikian kesimpulan sementara hanya menunjukkan adanya kemungkinan masalah keturunan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi.

  1. Masalah pembelajaran dan komunikasi dengan orang tua

* Masalah komunikasi dan interaksi dengan orang tua tanpa disadari memiliki peran yang penting dalam membuat anak mempunyai kemampuan berbicara dan berbahasa yang tinggi. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi dengan si anak lah yang juga membuat anak tidak punya banyak perbendaharaan kata-kata, kurang dipacu untuk berpikir logis, analisa atau membuat kesimpulan dari kalimat-kalimat yang sangat sederhana sekali pun. Sering orang tua malas mengajak anaknya bicara panjang lebar dan hanya bicara satu dua patah kata saja yang isinya instruksi atau jawaban sangat singkat. Selain itu, anak yang tidak pernah diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri sejak dini (lebih banyak menjadi pendengar pasif) karena orang tua terlalu memaksakan dan “memasukkan” segala instruksi, pandangan mereka sendiri atau keinginan mereka sendiri tanpa memberi kesempatan pada anaknya untuk memberi umpan balik, juga menjadi faktor yang mempengaruhi kemampuan bicara, menggunakan kalimat dan berbahasa.

* Anak-anak yang diasuh oleh orangtua/pengasuh yang pendiam sering kali jadi kurang terstimulasi. Begitu juga anak-anak yang setiap hari kegiatannya hanya menonton tv.

* Anak-anak yang dimanja sehingga tanpa bicara pun, misalnya hanya menunjuk-nunjuk, sudah mendapatkan apa yang diinginkannya.

5. Adanya keterbatasan fisik seperti pendengaran terganggu, otot bicara kurang sempurna, bibir sumbing, dan sebagainya.

6. Faktor Televisi
Sejauh ini, kebanyakan nonton televisi pada anak-anak usia batita merupakan faktor yang membuat anak lebih menjadi pendengar pasif. Pada saat nonton televisi, anak akan lebih sebagai pihak yang menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Belum lagi suguhan yang ditayangkan berisi adegan-adegan yang seringkali tidak dimengerti oleh anak dan bahkan sebenarnya traumatis (karena menyaksikan adegan perkelahian, kekerasan, seksual, atau pun acara yang tidak disangka memberi kesan yang mendalam karena egosentrisme yang kuat pada anak dan karena kemampuan kognitif yang masih belum berkembang).

Akibatnya, dalam jangka waktu tertentu yang mana seharusnya otak mendapat banyak stimulasi dari lingkungan /orang tua untuk kemudian memberikan feedback kembali, namun karena yang lebih banyak memberikan stimulasi adalah televisi (yang tidak membutuhkan respon apa-apa dari penontonnya), maka sel-sel otak yang mengurusi masalah bahasa dan bicara akan terhambat perkembangannya
Sedangkan penelitian mengenai pengaruh tv terhadap IQ anak mendapati hasil bahwa anak di bawah 3 tahun yang rajin menonton televisi setiap jamnya ternyata hasil uji membaca turun, uji membaca komprehensif turun, juga memori. Yang positif hanyalah kemampuan mengenal dengan membaca naik. Dari situ disimpulkan bahwa menonton tv pada anak di bawah 3 tahun hanya membawa lebih banyak dampak buruk dibanding efek baiknya.

Jika cara-cara di bawah ini dilakukan secara terus-menerus dan konsisten, maka anak akan termotivasi untuk terus mengembangkan kemampuannya berbahasa dan berkomunikasi dan baik. Inilah beberapa hal yang penting diperhatikan orangtua saat berkomunikasi dengan si batita:

· Gunakan bahasa yang benar, bukan baby talk seperti, “Oh, mau mimi cucu, ya,” tapi, “Oh, mau minum susu, ya?”

· Gunakan kalimat dan kata yang tidak bermakna ganda. Contoh, “Jangan ke sana, bahaya!” Ingat, ke sana itu bisa berarti ke luar rumah, ke tempat cucian, ke dapur, dan ke banyak tempat lainnya. Lebih baik, katakan, “Jangan ke dekat kompor menyala, bahaya!”

· Gunakan selalu kalimat pendek.

· Hindari kata-kata kotor dan kasar jika tak ingin anak menirunya.

· Karena anak masih belajar, orangtua sebaiknya melantunkan bahasa dengan jelas, tidak cepat-cepat dan dengan gerak mulut (bibir dan lidah) yang tegas sehingga mudah dikenali dan diikuti anak.

· Jika menemukan kesalahan pada kata/kalimat dalam bahasa anak, segera luruskan dengan cara mengulang ucapannya secara benar.

Gangguan Keterlambatan Bicara
Gangguan keterlambatan bicara adalah istilah yang dipergunakan untuk mendeskripsikan adanya hambatan pada kemampuan bicara dan perkembangan bahasa pada anak-anak, tanpa disertai keterlambatan aspek perkembangan lainnya. Pada umumnya mereka mempunyai perkembangan intelegensi dan sosial-emosional yang normal. Menurut penelitian, problem ini terjadi atau dialami 5 sampai 10% anak-anak usia prasekolah dan lebih cenderung dialami oleh anak laki-laki dari pada perempuan.

Di awal usia batita, anak mulai mampu mengucapkan kata yang memiliki makna. Meski kebanyakan kata tersebut masih sulit dipahami karena artikulasi (pengucapannya) masih belum baik. Perlu diketahui, kemampuan batita dalam berbicara dipengaruhi kematangan oral motor (organ-organ mulut). Sementara, kemampuan yang menunjang perkembangan bahasa di antaranya kemampuan mendengar, artikulasi, fisik (perkembangan otak dan alat bicara), dan lingkungan.

Gangguan kemampuan bicara atau keterlambatan bicara dan berbahasa ini haruslah dideteksi dan ditangani sejak dini dan dengan metode yang tepat. Bagaimana pun juga, bicara dan bahasa merupakan media utama seseorang untuk mengekspresikan emosi, pikiran, pendapat dan keinginannya. Bayangkan saja, jika ia mengalami masalah dalam mengekspresikan diri, untuk bisa dimengerti oleh orang lain atau orang tuanya, guru dan teman-temannya, maka bisa membuat ia frustrasi. Mungkin pula ia akan merasa frustrasi dan malu karena teman-temannya memperlakukan dia secara berbeda, entah mengucilkan atau pun membuatnya jadi bahan tertawaan. Jika tidak ada yang bisa mengerti apa sih yang jadi keinginannya atau apa yang dimaksudkannya, maka tidak heran jika lama kelamaan ia akan berhenti untuk berusaha membuat orang lain mengerti. Padahal, belajar melalui proses interaksi adalah proses penting dalam menjadikan seorang manusia bertumbuh dan berhasil menjadi orang seperti yang diharapkannya.

*Babbling

Sebagian anak di awal usia batita, melakukan babbling, yaitu mengeluarkan suara berupa satu suku kata, seperti “ma…” atau “ba..” Namun, itu masih belum bermakna. Jadi sekadar mengoceh atau bereksperimen. Disarankan sering mengajaknya berkomunikasi, misal, “Adek mau main boneka ini?” Ucapkan hal itu dengan jelas sehingga lambat-laun anak dapat melakukan imitasi untuk dapat mengucapkan kata-kata yang jelas dan bisa dimaknai pula.
*Bahasa”planet”
Contoh, saat meminta sesuatu dia hanya menunjuk sambil mengeluarkan kata-kata yang tidak dimengerti orang dewasa. Atau, ia kemudian menggunakan bahasa tubuh, misalnya ketika masih ingin digendong, ia menarik ibunya sambil mengeluarkan suara tertentu yang maksudnya masih ingin digendong atau bermain dengan ibunya. Bahasa tubuh dijadikan bentuk komunikasi, misalnya ketika ia merasa haus, ia menunjuk atau mengambil gelas plastiknya sambil berkata, “Ma” atau kata lainnya yang belum bisa ditebak tapi maksudnya adalah ia ingin minum, misalnya. Untuk menghadapi hal ini, sebaiknya segera ketahui sesuatu yang dimaksud si kecil dengan cara menuju objek yang diinginkan.
*Sepotong-sepotong
Yang ini memang sering terjadi pada anak batita. Misalnya, “minta” jadi “ta”, minum jadi “num”, dan lain-lain. Kita perlu meluruskan dengan mengucapkan berulang-ulang. Misal “Oh, Adek minta minum ya!” Kalau melihat logika dari teori barang masuk ke kotak, di situ jelas terlihat, barang yang masuk terakhir pasti akan jadi terdepan atau lebih dulu yang kita lihat. Kemampuannya untuk menangkap, mencerna, dan mengeluarkan apa yang ingin diucapkan masih dalam tahap belajar. Wajar kalau pengucapan masih sering tersendat-sendat/ sepotong-sepotong, hanya pada bagian akhir kata.

*Sulit mengucapkan huruf/sukukata
Misalnya, kata mobil disebut “mobing”. Atau toko jadi “toto” atau stasiun jadi “tatun”. Pengucapan semacam ini sulit ditangkap artinya. Biasanya kendala ini akan hilang dengan bertambah usia anak atau bila kita melatihnya dengan membiasakan menggunakan bahasa yang baik dan benar.
*Terbalik-balik
Contoh, si kecil mengatakan, “Co jangan mam, Yah.” Orangtua tinggal meluruskan dengan mengucapkan kalimat yang sama dan arti yang sama tapi susunannya benar, “Ayah jangan makan bakso ini.” Dilanjutkan dengan memberikan jawaban, “Oke, Ayah tidak makan bakso ini.” Bisa juga dilanjutkan, “Bakso ini punyamu, ya.”

Jangan sekali-kali mengatakan ucapannya itu salah, “Salah itu. Yang benar seperti ini…” misalnya. Hal ini karena di usia batita, anak “hobi” membangkang (tahap negativistik), sehingga bisa terjadi si kecil malah akan terus mengulang yang salah. “Kenapa juga harus kayak gitu. Intinya, kan bisa dimengerti,” begitu batin si anak.

Jika dibiarkan, bahasa anak akan berkembang ke arah yang tidak tepat, membingungkan, sehingga tidak dipahami lingkungan dan menyulitkannya dalam bersosialisasi. Mungkin juga, anak akan mengalami disleksia, meskipun perjalanan sampai ke situ jauh sekali. Yang pasti, sesuatu yang salah jika dibiarkan akan membawa efek tidak baik.
*Cadel
Biasanya anak batita cadel saat mengucapkan bunyi: R jadi L, K jadi D, dan S dengan T sering terbalik-balik. Tetapi tiap anak mempunyai variasi yang berbeda.

Cadel terjadi bisa karena kurang matangnya koordinasi bibir dan lidah. Orangtua harus meluruskan dengan cara menuntun anak melafalkan yang benar seperti apa. Tetapi ingat, orangtua tak boleh memaksakan anak harus langsung bisa, apalagi jika saat itu belum tiba waktunya kematangan untuk mampu melakukan hal tersebut. Pemaksaan hanya membuat anak jadi stres, sehingga akhirnya dia malah mogok berusaha meningkatkan kemahiran berbahasanya.

Sebaliknya jika dibiarkan saja, mungkin anak akan terus berada dalam kecadelannya, sehingga akan semakin sulit diluruskan kalau dia sudah lewat masa tune in dalam proses kematangannya.

Sedangkan, cadel karena kelainan fisiologis semisal lidahnya pendek, tak punya anak tekak, atau langit-langitnya cekung. Penanganannya tentu harus dibawa ke dokter. Nah, yang sering terjadi adalah karena kurang/belum matangnya koordinasi bibir dan lidah. Biasanya “r” dibunyikan “l”. Meski begitu, kecadelan tiap anak tidak sama persis.

Coba untuk meluruskan dengan cara memberi contoh mengucapkan yang benar. Tidak perlu memaksakan anak harus langsung bisa karena belum saatnya ia bisa berucap dengan benar. Akan tetapi, bila dibiarkan juga, mungkin anak akan terus berada dalam kecadelannya. Malah akhirnya akan makin sulit diluruskan.

*Salah makna kata/kalimat
Sekalipun anak usia ini sudah mampu merangkaikan lebih dari 3 kata menjadi sebuah kalimat, akan tetapi sering kali kalimat tersebut maknanya salah. Bahkan tak jarang, satu kalimat yang diucapkan anak mempunyai arti yang bejibun, seperti “Bun, mam susu, lapar.”

Kondisi ini terjadi karena keterbatasan kemampuan anak untuk menggunakan kosakata yang ada di memorinya menjadi sebuah kalimat seperti yang diinginkannya. Yang harus dilakukan orangtua adalah segera meluruskannya detik itu juga, “Adek haus atau lapar? Setelah mendapat jawaban, katakan lagi, “Oh, Adek lapar. Jadi ingin makan, ya.”
*Bicara kasar/jorok
Tak jarang kita mendengar anak batita mengatakan kalimat kasar seperti, “Bego lu” atau “Mampus lu”. Bisa jadi kata-kata kasar itu diperolehnya dari lingkungan bermain. Ketika orangtua tidak dapat mengawasi anak terus-menerus, tentu tak ada jaminan anak terhindar dari contoh kata-kata seperti itu.

Karenanya, diperlukan perhatian orangtua agar anak mengurangi pengucapan kata-kata tersebut dan tidak menjadikannya kebiasaan. Namun, jangan sekali-kali memvonis bahwa anak kasar, nakal, atau jorok, sekalipun kata-kata tidak sopannya dilontarkan di muka umum. Siapa tahu anak melakukan itu karena senang pada bunyinya, sementara ia belum tahu arti dan maknanya secara pasti.

Hanya saja, tidak tertutup kemungkinan anak mengucapkan kata-kata kasar atau kotor sebagai ungkapan kekesalan atau kemarahan. Bila demikian, orangtua mesti mengajarkan cara menyalurkan rasa marah dan kesal yang dapat diterima orang lain. Jangan lupa, jelaskan alasannya seperti, “Adek, ucapanmu itu bisa membuat orang lain sedih, lo.” Atau, “Kalau dikatain bego, apa kamu juga mau? Sedih enggak? Orang lain juga sama.”

Untuk anak yang belum tahu arti kata kasar dan kotor yang ia ucapkan, jelaskan makna yang sebenarnya, “Adek, tai itu kan kotoran yang keluar kalau kita pup. Jadi tidak baik diungkapkan pada orang lain.”

Tetapi jika ucapannya menggambarkan kondisi nyata apa adanya, semisal, “Enggak mau, Om bau,” karena si om habis berolaraga dan badannya bau keringat, tentu tidak apa-apa dan anak tak bisa disalahkan.


*Gagap

Gagap (stuttering) pada masa batita dianggap normal karena masih belajar mengembangkan keterampilan dan kemampuan bicara. Paling banyak kegagapan ini terjadi di usia 18 bulan sampai kurang lebih 4 tahun. Misal, kata yang hendak diucapkan diulang-ulang, “Aku aku aku mau pipis.” Atau anak sulit mengucapkan kata tertentu di awal atau di tengah, misalnya, “mmmmmama”, “makkkkan.”

Apa yang dapat memicu anak menjadi gagap?

  1. Kesulitan menemukan kata. Anak balita masih dalam tahap belajar untuk mengembangkan kata.  Sehingga mereka  kebingungan menemukan kata atau kalimat yang tepat untuk mengekspesikan perasaannya pada saat marah, senang dan sedih.
  2. Tekanan dari orang tua dan lingkungan. Perhatian yang berlebihan dari orang tua dan lingkungan karena cara bicara si anak yang gagap akan membuatnya semakin gugup dan kesulitan untuk keluar dari kebiasaan buruknya.
  3. Hukuman yang terlalu keras. Jika anak sering sekali dimarahi biasanya akan memudahkan mengalami kebiasaan ini.

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menangani anak yang gagap dalam berbicara:

  1. Hindari kekesalan dan kekhawatiran. Bantu anak saat ia mencari kalimat yang tepat, jangan kesal dan memarahinya.
  2. Merespon maksudnya, bukan bicaranya. Tunggulah anak anda selesai bicara saat mengungkapkan sesuatu. Kemudian berikan tanggapan atas apa yang ia ceritakan, bukan tentang cara bicaranya.
  3. Posisi sejajar. Saat bicara dengan anak, biasakan dalam posisi sejajar, mata saling berhadapan, yang dapat dilakukan dengan cara jongkok atau berlutut. Hal ini memudahkan anak untuk bicara pada anda. Berikan perhatian pada apa yg ia utarakan.
  4. Lambat dan tenang. Ajaklah anak untuk berbicara lambat dan tenang untuk mengatasi kebiasaan gagapnya.
  5. Suasana yang nyaman. Ciptakan suasana yang nyaman dimanapun ia berada.
  6. Menjaga anak dari ejekan. Hindari untuk mengejek, memarahi dan memberikan julukan tertentu yang menunjukan kebiasaan ini atau membiarkan orang lain atau temannya menertawakannya.
  7. Jauhkan anak dari kondisi stress.

Gagap pada masa batita akan menghilang sendiri seiring dengan makin berkembangnya kemampuan berbicara. Akan tetapi, membiarkan anak dengan kegagapannya tidak juga dianjurkan. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan, di antaranya jangan “menginterupsi” saat ia terlihat gagap, hindari memaksa dia untuk mengulang kata-kata yang tak lancar diucapkan, jadilah role model bicara yang baik.


*Usia 0-1 tahun:

Beranjak ke usia 1,5 bulan ­ 3 bulan, balita mulai ber “au…” Ia amat menyukai suara yang ditimbulkan dari mulutnya sendiri.  Namun hal ini bukan termasuk komunikasi.

Di umur 6-­10 bulan, si kecil mulai babbling, yaitu mengeluarkan suara yang berupa gabungan huruf mati dan huruf hidup, seperti "ma..." atau "ba.." Pada usia ini balita baru sekadar mengoceh yang tak ada artinya. Singkatnya, ia hanya bereksperimen sehingga bunyi yang dikeluarkannya itu tidak punya makna.

Pada usia 10-14 bulan, mulailah muncul kata bermakna dan bertujuan dari mulut mungilnya. Jadi, ketika ia mengatakan "Ma..!" tangannya akan menggapai ke arah ibu, misalnya. Dengan kata lain, ocehan si kecil memiliki arti jika selagi mengeluarkan bunyi ia akan menunjuk ke suatu obyek. Si kecil mulai bisa berkomunikasi dengan bahasa tubuh yang sifatnya representasi atau menggunakan simbol-simbol. Bahasa anak di usia ini masih sangat terbatas, ia menggunakan bahasa tubuh sebagai alat bantu untuk berkomunikasi. Di usia batita ini juga, biasanya anak mulai pandai menggunakan gerakan-gerakan simbolis. Misalnya, ketika ia diberi susu yang agak panas, maka ia akan meniup susu itu.

* Usia 1-2 tahun:

Anak berada pada tahap linguistic speech yang sangat sederhana dan satu kata bisa mewakili banyak pemikiran lengkap. Anak sudah bisa mengucapkan satu atau dua kata, tetapi cuma sepotong, dan sepotong kata itu bisa punya arti panjang. Contoh, saat anak bilang “bun” dengan maksud Bunda, artinya mungkin saja, “Aku ingin digendong,” atau “Aku ingin ikut jalan-jalan bersama bunda.”

Sejak usia setahun, anak balita mulai bisa mengenali sebuah benda meski benda itu tak lagi ada di hadapannya.. Ia juga mulai mengenali benda yang tidak kongkret. Pada akhir tahap sensor motorik ini, keterampilan berbahasa balita mulai tampak. Ia bisa melakukan komunikasi. Dengan diajak bercakap dan mengeksplorasi keterampilan bahasanya, balita akan semakin terampil menerima, menyimpan dan mengolah informasi yang diterimanya. Keterampilan ini merupakan aspek penting dalam berlogika

Pada usia 1 – 2 tahun, anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Pada usia ini, anak mengembangkan rasa keingintahuannya melalui beberapa hal berikut ini :

  • Mengenal anggota badan.

Pada usia sekitar 15 bulan, anak sudah dapat diajarkan untuk mengucapkan kata-kata. Anak-anak akan merasa sangat senang jika orangtua mengajarkan kata-kata yang bernamakan anggota tubuhnya sambil menunjukkan anggota tubuhnya.

  • Memahami kalimat yang terdiri dari beberapa kata.

Pada usia 12 bulan hingga18 bulan, kosakata balita masih sangat terbatas. Dia tidak selalu bisa mengungkapkan emosinya atau memberitahukan apa yang dia mau. Jadi, terkadang ia mengambek dan mengamuk. Pada usia tersebut, balita sudah dapat memahami kalimat yang terdiri atas rangkaian beberapa kata. Selain itu, ia juga sudah dapat mengembangkan komunikasi dengan menggunakan gerakan tubuh, tangisan dan mimik wajah. Pada usia 13 bulan, balita sudah mulai dapat mengucapkan kata-kata sederhana seperti “mama” atau “papa”. Pada usia 17 bulan, umumnya  sudah dapat mengucapkan kata ganti diri dan merangkainya dengan beberapa kata sederhana dan mengutarakan pesan-pesan seperti: “ Adik mau susu.”

  • Cepat menangkap kata-kata baru.

Pada usia 18 – 23 bulan, anak mengalami perkembangan yang pesat dalam mengucapkan kata-kata. Perbendaharaan kata anak-anak pada usia ini mencapai 50 kata. Selain itu, anak sudah mulai sadar bahwa setiap benda memiliki nama sehingga hal ini mendorongnya untuk melancarkan kemampuan bahasanya dan belajar kata-kata baru lebih cepat.

* Usia 2- 3 tahun:

Kemampuan kognitif anak usia 2 – 3 tahun semakin kompleks. Perkembangan anak usia 2–3 tahun ditandai dengan beberapa tahap kemampuan yang dapat dicapai anak, yaitu sebagai berikut:

  • Meningkatnya kemampuan mengingat.
  • Puncak perkembangan bicara dan bahasa.
Memasuki usia 2,5 hingga 3 tahun, anak mampu menyebutkan kembali kata-kata yang terdapat pada satu atau dua lagu pengantar tidur. Menjelang umur 2,5-3 tahun, ia sudah mulai menggunakan 2-3 kalimat dengan subyek/predikat yang genap dan pemahamannya pun sudah baik. Hanya saja, tata bahasa si kecil masih belum baik. Misalnya, ketika ia melihat induk kucing, ia akan menyebutnya sebagai mama kucing. Jadi, ia masih terbentur masalah bahasa, tapi secara konsep sudah mengerti bahwa mama itu lebih besar dari anaknya.  Tentu saja pemahaman si kecil ini hanya pada bahasa-bahasa yang konkret.

Pada usia sekitar 36 bulan, perbendaharaan kata anak dapat mencapai 1000 kata dengan 80% kata-kata tersebut dapat dipahaminya. Pada usia ini biasanya anak mulai banyak berbicara mengenai orang-orang di sekelilingnya, terutama ayah, ibu dan anggota keluarga lainnya.

Pada usia ini anak sering melakukan hal yang sangat menarik perhatian karena ia tengah memasuki tahap membangkang, yaitu melakukan yang dilarang dan tidak melakukan yang diizinkan. Tak heran jika dalam perkembangan bahasanya, anak senang mengatakan sesuatu yang membuat orangtua cemas dan malu, seperti “bego”, “mampus”, dan kata-kata kasar lainnya. Apalagi jika ditunjang dengan seringnya orangtua melarang anak mengucapkan kata-kata tersebut tanpa penjelasan yang tepat. Belum lagi kosakata yang diperolehnya di usia ini semakin banyak dan tidak hanya dari orangtua.

Selain itu, mulai usia ini juga umumnya anak mengeluarkan kalimat yang kadang terdengar janggal karena susunan kata-katanya tidak tepat alias terbalik-balik, sehingga apa yang diucapkannya tidak sesuai dengan maksud si anak. Walaupun begitu, orangtua tak perlu cemas. Hal ini wajar terjadi pada anak balita, karena:

* Anak pertama kali baru bisa bicara menyambungkan lebih dari satu hingga dua kata hingga membentuk sebuah kalimat yang berarti.

* Anak pertama kali baru bisa berkomunikasi dengan orang lain melalui bahasa yang mempunyai arti dan bisa dipahami.

* Anak banyak mempunyai kosakata untuk dijadikan sebuah kalimat yang digunakannya saat berkomunikasi.

* Anak mulai memperoleh banyak informasi kata dan kalimat baru yang menarik.

* Kemampuan mengolah kata dalam bentuk kalimat hingga menjadi sebuah bahasa di otaknya masih sangat terbatas.

* Pengalaman berbahasanya masih sangat minim.